KEHIDUPAN POLITIK BANGSA ARAB PADA MASA JAHILIAH (Bagian Pertama)
Umat manusia telah hidup dalam kegelapan jahiliah pada abad keenam dan ketujuh Masehi. Pada masa itu, praktik penyembahan berhala, khurafat, fanatisme kesukuan, tribalitas, stratifikasi sosial, serta berbagai kerusakan sosial dan politik merajalela. Sebagian besar gagasan reformasi telah diselewengkan, baik yang dibawa oleh para nabi utusan Allah maupun oleh para bijak yang fitrahnya tetap lurus di atas kebenaran. Rasulullah ﷺ menggambarkan kenyataan ini dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الأَرضِ فَمَقَتَهُمْ، عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ، إِلَّا بَقَايَا مِن أَهْلِ الكِتَابِ
“Sesungguhnya Allah memandang penduduk bumi, lalu Dia membenci mereka semuanya, baik orang Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa dari Ahlul Kitab.” (HR. Muslim, no. 2865)
Di sini akan disebutkan secara ringkas kondisi Jazirah Arab pada masa tersebut, untuk menjelaskan urgensi diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dan kandungan risalah beliau berupa prinsip-prinsip dan standar-standar yang telah, sedang, dan akan terus menjadi faktor utama dalam pembangunan peradaban manusia.
Kehidupan Politik di Yaman
Di antara bangsa Arab paling tua yang dikenal di Yaman adalah kaum Saba’, yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah Ta‘ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ
“Sungguh, pada (kaum) Saba’ terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah) di tempat tinggal mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)
Pada tahun 300 M, kekuasaan mereka dikuasai oleh kabilah Himyar. Sejak itu Yaman mulai memasuki fase kemunduran, dan kabilah-kabilah Qahthaniyah mulai bermigrasi ke berbagai wilayah.
Selama kurang lebih dua ratus tujuh puluh tahun sebelum masuknya Islam ke Yaman, wilayah ini terus dilanda gejolak dan perang saudara, yang membuka peluang bagi bangsa asing untuk mengakhiri kemerdekaan mereka. Setelah sempat merdeka kembali, Allah menimpakan kepada mereka banjir besar yang menghancurkan Bendungan Ma’rib.
﴾فَأَرسَلنَا عَلَيهِم سَيلَ العَرِمِ﴿
“Maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar (yang merusak).” (QS. Saba’: 16)
Pada tahun 523 M, raja mereka, Dzu Nuwas, melakukan tindakan represif terhadap kaum Nasrani yang menolak meninggalkan agama mereka. Ia menggali parit besar, menyalakan api di dalamnya, lalu melemparkan mereka ke dalamnya. Peristiwa ini diabadikan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:
قُتِلَ أَصحَابُ الأُخدُودِ النَّارِ ذَاتِ الوَقُودِ إِذْ هُم عَلَيهَا قُعُودٌ وَهُم عَلَىٰ مَا يَفعَلُونَ بِالمُؤمِنِينَ شُهُودٌ وَمَا نَقَمُوا مِنهُمْ إِلَّا أَن يُؤمِنُوا بِاللَّهِ العَزِيزِ الحَمِيدِ
“Binasalah orang-orang yang membuat parit, (yaitu) api yang penuh dengan bahan bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang beriman itu melainkan karena orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Burūj: 4–8)
Peristiwa ini mendorong bangsa Romawi dan Habasyah kembali menguasai Yaman. Di bawah kepemimpinan Abrahah, bahkan dilakukan upaya penghancuran Ka‘bah di Makkah, namun Allah menggagalkan rencana tersebut sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an:
أَلَم تَرَ كَيفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الفِيلِ أَلَم يَجعَل كَيدَهُم فِي تَضلِيلٍ
“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?” (QS. Al-Fīl: 1–2)
Penduduk Yaman kemudian meminta bantuan bangsa Persia. Persia membantu mereka mengusir Habasyah, dan Yaman menjadi wilayah kekuasaan Persia hingga gubernur terakhirnya, Badzan, masuk Islam. Dengan keislamannya, berakhirlah pengaruh Persia di Yaman.
Masuk Islamnya Badzan terjadi pada bulan Jumadal Ula tahun ketujuh Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 628 M.
Sumber: Mukhtaṣar as-Sīrah an-Nabawiyyah min Maṣādirihā al-Aṣliyyah, hlm. 9-10
- Categories
- Sirah Nabawiyyah


