KARAKTERISTIK MUSYRIF AL-QURAN: SIFAT ILMIAH & QURANI
Seseorang yang tampil memegang amanah sebagai seorang musyrif hendaknya memiliki seperangkat sifat ilmiah dan Qur’ani yang secara khusus membekalinya untuk tugas tersebut. Di antara sifat-sifat itu adalah:
Memiliki kompetensi keilmuan yang tinggi dalam Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Idealnya, ia adalah seorang hafiz yang mutqin dalam tajwid, memiliki ijazah dengan sanad yang bersambung hingga Nabi ﷺ, serta memahami qira’at sepuluh atau setidaknya sebagian qira’at yang umum dipraktikkan saat ini. Apabila belum mencapai tingkat hafalan dan ketepatan tajwid tersebut, maka ia berkewajiban untuk berkomitmen menyempurnakan hafalan dan memperbaiki bacaan.
Memiliki wawasan tentang metode tazkiyatun nafs dan secara aktif menempuh proses penyucian diri; tidak dikuasai penyakit-penyakit hati dan gangguan kejiwaan; mampu menunaikan hak setiap pihak secara proporsional; serta menempatkan segala sesuatu pada posisi yang semestinya.
Bersikap moderat dalam beragama dan berpendirian, mencintai seluruh kaum muslimin, tidak memihak kelompok tertentu dengan mengabaikan yang lain, serta terbebas dari fanatisme mazhab, sosial, maupun politik.
Memiliki halaqah yang ia bina dan ajar secara langsung, agar tidak terputus dari praktik pengajaran di lapangan. Dengan demikian, ia tetap dekat dengan para santri, memahami secara nyata pelaksanaan arahan dan kebijakan, serta mampu menilai apakah suatu ketentuan dapat diterapkan atau tidak. Ia juga dapat memilih sekelompok santri unggulan dari berbagai halaqah untuk dibina secara khusus. Apabila ia menyadari tidak mampu menunaikan tugas tersebut secara optimal, hendaknya ia menyerahkannya kepada pihak yang lebih diyakini mampu memikul tanggung jawabnya.
Memiliki pengalaman dan jam terbang yang memadai dalam bidang iqra’ dan pengajaran Al-Qur’an di halaqah, serta menguasai secara mendalam metode pembelajaran, strategi pengajaran, dan seni pengarahan serta pengawasan. Pengalaman dan kompetensinya hendaknya berada di atas rata-rata para guru yang berada di bawah pengawasannya.
Mampu menguasai seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia. Apabila ia merasakan adanya kekurangan dalam keterampilan pengelolaan hubungan antarmanusia, maka hendaknya ia berupaya mengikuti pelatihan-pelatihan dalam bidang manajemen, kepemimpinan, dan pembinaan. Selain itu, ia perlu memperkaya diri dengan membaca buku-buku yang membahas seni berinteraksi dengan orang lain dan memengaruhi mereka secara positif. Ia juga dituntut memiliki kemampuan membangun hubungan yang sehat, konstruktif, dan berkelanjutan dengan berbagai pihak.
Memiliki kecerdasan dan ketajaman nalar, kecepatan berpikir dan bertindak, serta kemampuan kreatif dalam melahirkan gagasan-gagasan baru, mengembangkannya, dan mengaplikasikannya. Ia berpikir secara logis, kritis, dan bijaksana, serta mampu memberikan penilaian yang tepat terhadap berbagai persoalan dan situasi baru yang muncul.
Ciri utama yang menonjol pada dirinya adalah semangat inovasi dan kreativitas, baik dalam praktik pengawasan maupun pengajaran, serta pola pikir yang selalu mengarah pada pembaruan dan pengembangan mutu kerja.Memiliki semangat, energi, dan mobilitas yang tinggi, sehingga tidak merasa jenuh atau terbebani dengan tugas berpindah-pindah dan melakukan kunjungan lapangan.
Menguasai bahasa Arab secara baik, baik lisan maupun tulisan, serta memahami budaya dan konteks sosial wilayah tempat halaqah-halaqah Al-Qur’an yang berada di bawah bimbingannya.
Memiliki penguasaan yang memadai terhadap sejumlah keterampilan dasar yang dituntut oleh perkembangan zaman dan kebutuhan pekerjaan, seperti kemampuan berkhutbah, menjadi imam, membaca Al-Qur’an dengan tartil, menggunakan komputer, serta penguasaan bahasa Inggris, dan keterampilan relevan lainnya.
Memiliki wawasan yang luas, budaya umum yang baik, rasa ingin tahu yang tinggi, kemauan kuat untuk terus belajar, aspirasi pengembangan keilmuan dan profesional, keragaman pengalaman, serta komitmen untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri secara ilmiah.
Bersikap toleran dan fleksibel dalam berpikir, disertai ketelitian dalam pemantauan dan pengamatan. Ia tidak mudah terpedaya oleh tampilan luar atau kata-kata manis yang dikemas rapi, sehingga mampu melihat hakikat persoalan dalam berbagai situasi.
Menaruh perhatian besar pada pembinaan, pengarahan, dan pembinaan Qur’ani, serta seluruh bidang yang berkaitan dengannya, baik pada tataran konseptual maupun praktis di lapangan.
Memiliki kepekaan Qur’ani, rasa tajwid yang kuat, keseimbangan psikologis, serta kecenderungan hati yang mendalam untuk mencintai Al-Qur’an, mengajarkannya, dan menyebarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia.
Sumber: Fann Al-Isyaraaf hlm. 237 - 239.
- Categories
- Halaqah Al-Quran

